Kopi vs Teh: Mengapa Selisihnya Tinggal 1% di Indonesia?
Kopi vs Teh: Mengapa Selisihnya Tinggal 1% di Indonesia?
Oleh : Kurasikopilokal
Rutinitas pagi masyarakat Indonesia rasanya belum lengkap tanpa kepulan asap tipis dari secangkir minuman hangat di atas meja. Selama berdekade-dekade, teh memegang takhta sebagai "minuman default" yang nyaris selalu hadir di setiap rumah tangga, dari perkotaan hingga pelosok desa. Namun, lanskap budaya minum kita perlahan tapi pasti sedang berubah. Kopi, yang dulunya lebih banyak didominasi oleh kaum bapak-bapak di warung kopi sederhana atau sekadar penahan kantuk, kini merangsek naik menjadi primadona lintas generasi.
Sebuah survei terbaru dari Jakpat pada April 2026 membuka mata kita terhadap realitas baru ini. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia kini mencapai 72%, sementara teh membayangi dengan sangat ketat di angka 71% (Jakpat, 2026). Ya, Anda tidak salah baca, selisihnya kini tinggal 1%! Angka ini bukan sekadar statistik pergeseran selera lidah sesaat. Di balik persentase tipis tersebut, terdapat dinamika transformasi budaya nongkrong, keberhasilan hilirisasi kopi, hingga tantangan struktural menahun yang tengah membelit industri teh nasional.
Mari kita bedah lebih dalam mengapa kopi bisa melesat begitu tajam, mengapa teh terkesan berjalan di tempat, dan bagaimana nasib kedua komoditas kebanggaan Nusantara ini di masa depan.
Anomali Demografi dan Ritual Waktu Seduh
Untuk memahami selisih 1% ini, kita perlu melihat siapa sebenarnya yang meminum apa. Data demografi menyajikan sebuah anomali yang cukup mengejutkan. Secara intuitif, kita mungkin mengira tren kedai kopi kekinian membuat kopi merajai kalangan muda. Namun, survei Jakpat (2026) mengungkap bahwa penikmat kopi terbanyak justru dikuasai oleh Generasi X (79%), sedangkan teh secara tak terduga merajai kalangan Milenial (75%).
Sementara itu, Generasi Z menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi pada kedua jenis minuman tersebut, menjadikannya bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan simbol gaya hidup harian yang dinamis.
Dari sisi ritual waktu seduh, pagi hari (pukul 06.00-09.00) masih menjadi area netral di mana kopi dan teh bersaing imbang dikonsumsi oleh 38% responden. Perbedaan kebiasaan baru terlihat setelah matahari meninggi. Sore hari adalah waktu syahdu yang didominasi oleh teh (22%), sedangkan malam hari (26%) menjadi teritori mutlak bagi kopi (Jakpat, 2026). Soal selera pun merepresentasikan transisi unik; Teh Manis klasik (37%) dan Cappuccino (35%) keluar sebagai primadona (GoodStats, 2025). Perpaduan rasa manis dan pahit ini seolah menjadi jalan tengah bagi masyarakat urban yang mencari kenyamanan sekaligus energi ekstra.
Mengapa Kopi Melesat Terlalu Cepat?
Kunci utama meroketnya pamor kopi terletak pada kemampuannya berevolusi. Kopi berhasil keluar dari dapur rumah dan bertransformasi menjadi ruang publik. Mengutip kajian ilmiah dari Andina dan Zulaikha (2024), budaya nongkrong di kalangan anak muda saat ini bukan lagi sekadar menghabiskan waktu luang. Aktivitas ini telah bergeser menjadi bentuk eksistensi status sosial, pencarian identitas, dan self-expression. Kedai kopi lokal maupun specialty coffee shop berhasil memposisikan diri sebagai "ruang ketiga" yang nyaman setelah rumah dan kantor atau kampus.
Lebih dari itu, industri kopi menikmati keberhasilan narasi hilirisasi yang solid. Kopi sukses naik kelas dari sekadar komoditas fungsional menjadi produk yang memberikan emotional benefit (Ali, 2026; Anjelina, 2026). Para pelaku industri, barista, dan roaster lokal dengan gigih mengedukasi publik tentang kekayaan single origin, mulai dari Gayo, Toraja, hingga Lintong. Kopi bukan lagi sekadar air berwarna hitam, melainkan sebuah cerita tentang petani, metode roasting, hingga teknik seduh yang estetik.
Mengapa Teh Cenderung Tertinggal?
Lantas, apa yang membuat teh yang sejatinya merupakan warisan budaya kuat sejak era kolonial, terkesan stagnan? Masalah pertama adalah kehilangan panggung narasi. Pakar teh Indonesia, Ratna Somantri, pernah menyoroti bahwa teh masih sering terjebak dalam stigma sebagai "minuman murah" (Inibaru.id, 2020).
Kedekatannya sebagai minuman gratis di rumah makan atau minuman harian di rumah justru membuatnya kehilangan elemen kejutan. Teh gagal memperbarui imajinasi dan narasinya di ruang publik perkotaan (Ali, 2026).
Di sektor hulu, situasinya lebih memprihatinkan. Produksi dan luas lahan perkebunan teh nasional terus menyusut sejak awal tahun 2000-an akibat alih fungsi lahan dan kurangnya peremajaan tanaman. Ironisnya, untuk memenuhi kebutuhan industri minuman dalam negeri, Indonesia terpaksa banyak mengimpor teh dengan kualitas yang lebih rendah (grade II ke bawah) dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand karena harganya yang jauh lebih murah (Ekasari, 2021; Tempo, 2019; Tridge, 2026). Tanpa adopsi teknologi yang masif dan minimnya Good Agricultural Practices (GAP) di kalangan petani rakyat, teh lokal berkualitas tinggi semakin langka dan harganya sulit bersaing.
Medan Pertempuran Baru: Pasar RTD dan Iklim
Saat ini, persaingan tidak hanya terjadi di kedai atau meja makan, tetapi bergeser keras ke rak-rak minimarket melalui produk Ready to Drink (RTD). Urbanisasi yang masif memaksa masyarakat kelas menengah mencari kepraktisan absolut. Namun, medan pertempuran ini penuh dengan tantangan struktural.
Seperti yang diuraikan secara komprehensif dalam laporan Indonesia Coffee and Tea Market Analysis 2026, pasar minuman RTD di Indonesia kini menghadapi kondisi kompetisi yang intense competition dan saturasi pasar akibat serbuan berbagai merek baru. Laporan tersebut juga memberikan peringatan krusial mengenai kerentanan rantai pasok. Kesulitan dalam mendapatkan bahan baku yang berkualitas dengan harga stabil kini menjadi ancaman nyata. Hal ini dipicu oleh perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan kekeringan panjang di Asia Tenggara yang mengganggu hasil panen kopi maupun teh.
Pandangan ke Depan: Tidak Perlu Saling Mematikan
Jika ingin kembali merebut panggung, industri teh harus mau belajar dari kesuksesan kopi. Teh membutuhkan ruang eksplorasi baru melalui Artisan Tea, penguatan Indikasi Geografis (GI), dan edukasi cara seduh yang elegan untuk menciptakan value baru di mata generasi muda. Di sisi lain, industri kopi juga tidak boleh terlena. Ancaman krisis iklim dan urgensi regenerasi petani di pedesaan adalah bom waktu yang harus segera dimitigasi agar pasokan specialty coffee tetap terjaga kelestariannya.
Pada akhirnya, kopi dan teh tidak dilahirkan untuk saling mematikan. Keduanya memiliki akar sejarah yang meresap dalam di tanah Nusantara, baik dari jalur akulturasi Tiongkok, Arab, maupun sisa-sisa sejarah kolonial. Selisih 1% pada data konsumsi hari ini sebenarnya adalah kabar baik. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia adalah penikmat minuman berkafein yang sangat dinamis, adaptif terhadap zaman, dan siap mengapresiasi produk lokal yang digarap dengan hati.
Nah, kalau Anda sendiri yang sedang membaca tulisan di Kurasi Kopi Lokal ini, masuk ke tim manakah Anda hari ini? Tim kopi yang butuh kick-start di pagi hari, atau tim teh yang mencari ketenangan di sore hari? Yuk, bagikan rutinitas seduhan favoritmu di kolom komentar!
Daftar Pustaka
- Ali, H. (2026, February 3). Kopi vs Teh: Bukan Cuma Soal Rasa. Hasanuddin Ali - Marketing, Social, Research. https://hasanuddinali.com/2026/02/03/kopi-vs-teh-bukan-cuma-soal-rasa/
- Andina, D., & Zulaikha, S. (2024). From Nongkrong To Transaction: The Role of Nongkrong Culture In Shaping Generation Z’s Purchasing Behavior In Coffee Shops. Journal of Consumer Behavior and Culture, 12(3), 45-58.
- Anjelina, P. (2026, April 26). Hilirisasi kopi berhasil, mengapa teh tertinggal?. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2026/04/26/080000126/hilirisasi-kopi-berhasil-mengapa-teh-tertinggal-
- Ekasari, I. (2021). Indonesia Tea 2022 Insight and Outlook: What's in Your Cup-pa?. Thought Leader, Pioneer, and Champion of Indonesian Artisan Tea. Bogor: FFTC.
- GoodStats. (2025, December 21). Seberapa Sering Orang Indonesia Minum Teh dan Kopi? (E. Zakia, Penulis). https://goodstats.id/article/seberapa-sering-orang-indonesia-minum-teh-dan-kopi-70N4l
- Inibaru.id. (2020, August 15). Lebih Banyak Mana di Indonesia, Penggemar Teh atau Kopi?. https://inibaru.id/kulinary
- Indonesia Coffee and Tea Market Analysis 2026. (2026). Market Research Report.
- Jakpat. (2026, September 21). Survei Jakpat: Kopi dan Teh Masih Jadi Minuman Paling Diminati Masyarakat Indonesia. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5750441/kopi-jadi-minuman-favorit-orang-indonesia-teh-beda-tipis
- Statista. (2025). Indonesia: Total coffee consumption & Ready-to-drink tea market forecast. Statista Market Insights.
- Tempo. (2019, March 14). Indonesia Sees Plummeting Tea Production. Tempo English. https://en.tempo.co/read/1185118/indonesia-sees-plummeting-tea-production
- Tridge. (2026, February 5). Indonesian Tea Exports Decline 13% in 2025 Amid Production and Quality Challenges. Tridge Insights.
Komentar
Posting Komentar